Rabu, 05 Oktober 2016

Manajemen Proyek & Resiko

PENGUKURAN RISIKO PROYEK PADA PERUSAHAAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONESIA


1.         PENDAHULUAN
Zaman yang modern ini persaingan dunia bisnis di Indonesia makin ketat dan sulit untuk menembus pasarannya di karenakan Teknologi Informasi yang berkembang pesat. Karena dengan teknologi yang modern semua dapat di akses dengan mudah dan kualitas yang di hasilkan sesuai dengan harapan.
Tetapi apabila pemakaian teknologi informasi tidak sesuai dengan bisnis perusahaan, makan akan menimbulkan resiko yang fatal. Fatal dalam hal menurunnya reputasi perusahaan atau bahkan akan berakibat bangkrutnya suatu perusahaan.
Sejauh ini,tingkat keberhasilan proyek teknologi informasi masih rendah. Karena banyak ditemukan proyek teknologi mengalami pembengkakan biaya
Salah satu pemicu kegagalan proyek teknologi informasi adalah dilupakannya manajemen risiko proyek oleh perusahaan teknologi informasi yang menjadi provider.karena itulah, penelitian ini mengambil judul “PENGUKURAN  RISIKO PROYEK PADA PERUSAHAAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONESIA”. Penelitian ini akan berguna untuk mengetahui profil risiko sehingga dapat meminimalkan dampak-dampak yang dapat di timbulkan oleh risiko tersebut.
Perusahaan yang dijadikan objek studi pada penelitian ini bergerak di bidang  software house yang menyediakan jasa pembuatan sistem. Suatu pengukuran risiko teknologi informasi yang dapat mendeteksi potensi risiko sehingga pengerjaan proyek teknologi informasi dapat berjalan lancar dan sukses.
Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kesadaran perusahaan-perusahaan teknologi informasi di Indonesia tentang pentingnya penerapan proyek teknologi informasi dapat berjalan dengan baik.
Tujuan penelitian adalah dapat mengetahui risiko yang terjadi dalam pengerjaan proyek teknologi informasi serta factor penyebab munculnya risiko tersebut.


METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus,dengan melakukan pengecekan yang mendalam terhadap suatu keadaan atau kejadian yang disebut sebagai kasus dengan menggunakan cara-carayang sistematis dalam melakukan pengamatan,pengumpulan data,analisis informasi, dan melaporkan hasil.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara  studi pustaka dan studi lapangan. Pada studi lapangan, dilakukan observasi lingkungan kerja pada divisi Software Solutions Group. Metode analisis data mengacu pada framework dasar (Schwalbe, 2002) dan 12 faktor risiko proyek teknologi informasi (Zhang dan Lee, 2008).

2.         HASIL & PEMBAHASAN

Dalam penelitian sebelumnya, terdapat 6 risiko yang menjadi prioritas yaitu  perencanaan
 teknologi yang kurang baik, kurangnya keahlian, pengaturan proyek yang tidak efektif,
ketidakserasian organisasi, pembaharuan teknologi teknologi dan ketidak cukupan sumber
daya. Zhang dan Lee meneumakan bahwa risiko tertinggi adalah risiko level teknologi.
Urutan kedua yaitu risiko level organisasi dan terakhir risiko level ekonomi.
      Risiko-risiko tersebut diukur dari kecenderungan dan dampaknya,kemudian diberikan
Rekomendasi untuk mitigasi risiko.Pada penelitian ini, ditemukan bahwa risiko yang menjadi
 prioritas setelah pengendalian yang di terapkan ternyata terpusat pada level organisasi.
Risiko yang paling membahayakan pengerjaan proyek teknologi informasi perusahaan adalah
Pengerjaan  proyek  menjadi  terhambat. Risiko ini disebabkan oleh anggota tim yang kurang
Mendukung pengerjaan proyek.
      Risiko yang menempati urutan kedua adalah penyelesaian proyek yang tidak sesuai
dengan jadwal. Risiko ini disebabkan oleh adanya perubahan sumber daya karena perusahaan perubahan prioritas perusahaan provider.
      Risiko urutan ketiga adalah tidak adanya kesepakatan permintaan dari konsumen. Risiko ini biasa di sebabkan oleh adanya konflik antara customer.
      Risiko urutan keempat adalah requirement proyek sulit di dapat. Risiko ini disebabkan oleh konsumen yang kurang komitmen.
      Risiko urutan kelima adalah  proyek harus disesuaikan dengan perubahan permintaan. Risiko ini disebabkan oleh adanya perubahan permintaan dari user.

      Berdasarkan pada prioritas risiko, strategi mitigasi risiko yang dapat direkomendasikan pada penelitian ini utnuk meminimalisasi risiko. Khususnya pada prioritas risiko terdiri dari beberapa rekomendasi. Pada risiko urutan teratas,yaitu pengerjaan proyek menjadi terhambat yang disebabkan anggota tim yang kurang mendukung pengerjaan proyek, mitigasi risiko merekomendasikan membuat suatu prosedur/aturan tentang profesionalisme dalam bekerja, memberikan suatu sanksi dan penggantian anggota tim proyek.
      Pada risiko urutan kedua,. Mitigasi risiko yang direkomendasikan adalah perekrutan karyawan kontrak untuk menjadi anggota tim sementara.
      Pada risiko urutan ketiga, Mitigasi risiko yang direkomendasikan adalah menjadi penengah dan memberi masukan agar kesepakatan permintaan segera tercapai.
      Pada risiko urutan keempat, Mitigasi risiko yang direkomendasikan adalah memberikan masukan pentingnya proyek dan memberlakukan sanksi denda apabila requirement tidak diserahkan sesuai jadwal.
      Pada risiko urutan kelima, Mitigasi risiko yang direkomendasikan adalah menentukan besarnya perubahan dan mengestimasikan waktu dan biaya yang akan dikeluarkan.
      Pada penelitan Zhan dan Lee hanya terdapat 3 level risiko dan risiko tertinggi ada di level teknologi. Sementara, pada penelitian ini risiko tertinggi adalah level organisasi. Hal ini menunjukan bahwa risiko level ekonomi tidak terlalu berpengaruh pada pengerjaan sebuah proyek di perusahaan pada studi kasus ini.
      Perbedaan dari karakteristik dalam proyek teknolodi infomasi ini menjadi factor penyebab berbedanya risiko yang paling mempengaruhi dalam pengerjaan proyek teknologi informasi. Dalam risiko Zhang dan Lee yang tertinggi adalah level teknologi sedangkan dalam studi kasus ini tertinggi yaitu level organisasi. Mengapa? Karena pada penelitian sebelumnya proyek yang di teliti adalah proyek untuk menerapkan service oriented system yang bersifat kompleks seperti  publishing industry, dan lain-lain.




3.      KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat di ambil kesimpulan, perusahaan tidak menggunakan manajemen risiko teknologi informasi dalam mengerjakan proyek sehingga risiko yang dapat mengganggu pekerjaan teknologi informasi yang belum teridentifikasi. Dalam penjelasan jurnal ini terdapat 5 prioritas risiko yang di temukan, diantaranya :
1.      Pengerjaan proyek menjadi terhambat.
2.      Penyelesaian proyek yang bukan prioritas menjadi tidak sesuai dengan ketetapan awal.
3.      Tidak adanya kesepakatan permintaan dari konsumen.
4.      Requirement proyek sulit di dapat.
5.      Proyek harus disesuaikan dengan perubahan permintaan.

Pada penelitian Zhang dan Lee urutan prioritas tertinggi di level teknologi tetapi dalam penelitian ini level organisasi yang tertinggi di bandingkan dengan level teknologi.

            Berdasarkan kesimpulan ini, maka sarannya adalah setiap perusahaan perlu adanya manajemen risiko pada pengerjaan proyek teknologi informasi. Dan perusahaan dapat menggunakan mitigasi risiko yang direkomendasikan dalam penelitian ini.










DAFTAR PUSTAKA

Rudy M.Harahap, Andri Setiawan, Adi Subakti Kurniawan, Merlin Mulia, ”PENGUKURAN RISIKO PROYEK PADA PERUSAHAAN TEKNOLOGI INFORMASI INDONESIA” , CommiT, Vol.3 , No.2 , 2009, hlm. 70-73.