PENGUKURAN
RISIKO PROYEK PADA PERUSAHAAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONESIA
1.
PENDAHULUAN
Zaman yang modern ini persaingan dunia bisnis di Indonesia makin
ketat dan sulit untuk menembus pasarannya di karenakan Teknologi Informasi yang
berkembang pesat. Karena dengan teknologi yang modern semua dapat di akses
dengan mudah dan kualitas yang di hasilkan sesuai dengan harapan.
Tetapi apabila pemakaian teknologi informasi tidak sesuai dengan
bisnis perusahaan, makan akan menimbulkan resiko yang fatal. Fatal dalam hal
menurunnya reputasi perusahaan atau bahkan akan berakibat bangkrutnya suatu
perusahaan.
Sejauh ini,tingkat keberhasilan proyek teknologi informasi masih
rendah. Karena banyak ditemukan proyek teknologi mengalami pembengkakan biaya
Salah satu pemicu kegagalan proyek teknologi informasi adalah
dilupakannya manajemen risiko proyek oleh perusahaan teknologi informasi yang
menjadi provider.karena itulah, penelitian ini mengambil judul “PENGUKURAN
RISIKO PROYEK PADA PERUSAHAAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONESIA”. Penelitian
ini akan berguna untuk mengetahui profil risiko sehingga dapat meminimalkan
dampak-dampak yang dapat di timbulkan oleh risiko tersebut.
Perusahaan yang dijadikan objek studi pada penelitian ini bergerak
di bidang software house yang menyediakan jasa
pembuatan sistem. Suatu pengukuran risiko teknologi informasi yang dapat
mendeteksi potensi risiko sehingga pengerjaan proyek teknologi informasi dapat
berjalan lancar dan sukses.
Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kesadaran perusahaan-perusahaan
teknologi informasi di Indonesia tentang pentingnya penerapan proyek teknologi
informasi dapat berjalan dengan baik.
Tujuan penelitian adalah dapat mengetahui risiko yang terjadi dalam
pengerjaan proyek teknologi informasi serta factor penyebab munculnya risiko
tersebut.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan
studi kasus,dengan melakukan pengecekan yang mendalam terhadap suatu keadaan
atau kejadian yang disebut sebagai kasus dengan menggunakan cara-carayang
sistematis dalam melakukan pengamatan,pengumpulan data,analisis informasi, dan
melaporkan hasil.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
cara studi pustaka dan studi lapangan.
Pada studi lapangan, dilakukan observasi lingkungan kerja pada divisi Software Solutions Group. Metode
analisis data mengacu pada framework
dasar (Schwalbe, 2002) dan 12 faktor risiko proyek teknologi informasi (Zhang
dan Lee, 2008).
2.
HASIL &
PEMBAHASAN
Dalam penelitian sebelumnya, terdapat 6 risiko yang
menjadi prioritas yaitu perencanaan
teknologi
yang kurang baik, kurangnya keahlian, pengaturan proyek yang tidak efektif,
ketidakserasian organisasi, pembaharuan teknologi
teknologi dan ketidak cukupan sumber
daya. Zhang dan Lee meneumakan bahwa risiko
tertinggi adalah risiko level teknologi.
Urutan kedua yaitu risiko level organisasi dan
terakhir risiko level ekonomi.
Risiko-risiko
tersebut diukur dari kecenderungan dan dampaknya,kemudian diberikan
Rekomendasi untuk mitigasi risiko.Pada penelitian
ini, ditemukan bahwa risiko yang menjadi
prioritas
setelah pengendalian yang di terapkan ternyata terpusat pada level organisasi.
Risiko yang paling membahayakan pengerjaan proyek
teknologi informasi perusahaan adalah
Pengerjaan proyek
menjadi terhambat. Risiko ini disebabkan oleh anggota
tim yang kurang
Mendukung pengerjaan proyek.
Risiko
yang menempati urutan kedua adalah penyelesaian proyek yang tidak sesuai
dengan jadwal. Risiko ini disebabkan oleh
adanya perubahan sumber daya karena perusahaan perubahan prioritas perusahaan provider.
Risiko
urutan ketiga adalah tidak adanya kesepakatan permintaan dari konsumen. Risiko
ini biasa di sebabkan oleh adanya konflik antara customer.
Risiko
urutan keempat adalah requirement
proyek sulit di dapat. Risiko ini disebabkan oleh konsumen yang kurang
komitmen.
Risiko
urutan kelima adalah proyek harus
disesuaikan dengan perubahan permintaan. Risiko ini disebabkan oleh adanya
perubahan permintaan dari user.
Berdasarkan
pada prioritas risiko, strategi mitigasi risiko yang dapat direkomendasikan
pada penelitian ini utnuk meminimalisasi risiko. Khususnya pada prioritas
risiko terdiri dari beberapa rekomendasi. Pada risiko urutan teratas,yaitu
pengerjaan proyek menjadi terhambat yang disebabkan anggota tim yang kurang
mendukung pengerjaan proyek, mitigasi risiko merekomendasikan membuat suatu
prosedur/aturan tentang profesionalisme dalam bekerja, memberikan suatu sanksi
dan penggantian anggota tim proyek.
Pada
risiko urutan kedua,. Mitigasi risiko yang direkomendasikan adalah perekrutan
karyawan kontrak untuk menjadi anggota tim sementara.
Pada
risiko urutan ketiga, Mitigasi risiko yang direkomendasikan adalah menjadi
penengah dan memberi masukan agar kesepakatan permintaan segera tercapai.
Pada
risiko urutan keempat, Mitigasi risiko yang direkomendasikan adalah memberikan
masukan pentingnya proyek dan memberlakukan sanksi denda apabila requirement tidak diserahkan sesuai
jadwal.
Pada
risiko urutan kelima, Mitigasi risiko yang direkomendasikan adalah menentukan
besarnya perubahan dan mengestimasikan waktu dan biaya yang akan dikeluarkan.
Pada
penelitan Zhan dan Lee hanya terdapat 3 level risiko dan risiko tertinggi ada
di level teknologi. Sementara, pada penelitian ini risiko tertinggi adalah
level organisasi. Hal ini menunjukan bahwa risiko level ekonomi tidak terlalu
berpengaruh pada pengerjaan sebuah proyek di perusahaan pada studi kasus ini.
Perbedaan
dari karakteristik dalam proyek teknolodi infomasi ini menjadi factor penyebab
berbedanya risiko yang paling mempengaruhi dalam pengerjaan proyek teknologi
informasi. Dalam risiko Zhang dan Lee yang tertinggi adalah level teknologi
sedangkan dalam studi kasus ini tertinggi yaitu level organisasi. Mengapa?
Karena pada penelitian sebelumnya proyek yang di teliti adalah proyek untuk menerapkan
service oriented system yang bersifat kompleks seperti publishing industry, dan
lain-lain.
3.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat di
ambil kesimpulan, perusahaan tidak menggunakan manajemen risiko teknologi
informasi dalam mengerjakan proyek sehingga risiko yang dapat mengganggu
pekerjaan teknologi informasi yang belum teridentifikasi. Dalam penjelasan
jurnal ini terdapat 5 prioritas risiko yang di temukan, diantaranya :
1. Pengerjaan proyek menjadi terhambat.
2. Penyelesaian proyek yang bukan prioritas
menjadi tidak sesuai dengan ketetapan awal.
3. Tidak adanya kesepakatan permintaan dari
konsumen.
4. Requirement proyek sulit di dapat.
5. Proyek harus disesuaikan dengan perubahan
permintaan.
Pada penelitian Zhang dan Lee urutan
prioritas tertinggi di level teknologi tetapi dalam penelitian ini level
organisasi yang tertinggi di bandingkan dengan level teknologi.
Berdasarkan
kesimpulan ini, maka sarannya adalah setiap perusahaan perlu adanya manajemen
risiko pada pengerjaan proyek teknologi informasi. Dan perusahaan dapat
menggunakan mitigasi risiko yang direkomendasikan dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Rudy M.Harahap, Andri Setiawan, Adi Subakti Kurniawan, Merlin
Mulia, ”PENGUKURAN RISIKO PROYEK PADA
PERUSAHAAN TEKNOLOGI INFORMASI INDONESIA” , CommiT, Vol.3 , No.2 , 2009,
hlm. 70-73.